Kamis, 03 Oktober 2019

KE-INDONESIA-AN

Ditulis oleh:  Zulfikar
(Biro Kajian dan Wacana PMII Rayon Psikologi dan Kesehatan)

Berdasarkan sumber kata,keindonesiaan merupakan bentuk dari kata konfiks (gabungan) atau kata yang di susupi imbuan ke dan an. menurut kamus besar indonesia thesaurus imbuan ke dan an jika di gabungkan dengan kata indonesia memiliki makna untuk menyatakan hal atau keadaan. sedangkan menurut terminology kata keindonesiaan memiliki makna untuk menerangkan hal dan keadaan bangsa indonesia dari berbagai aspek baik dari segi geografis, agama, politik, budaya serta sejarah.
Di era milenial sekarang ini dimana banyak budaya asiang dan berbagai macam paham yang masuk di indonesia tanpa filter yang memadahi, penting bagi kita memahami tentang makna dari keindonesiaan sebagai bentang bagi kita dalam meghadapi arus globalisasi dan paham-paham yang menyimpng supaya kita dapat terhindar dari hal-hal yang sekiranya dapat menyebabkan perpecahan.
Sebelum kita beranjak unuk memahami keindoneisaan itu sendiri ada baiknya kita kembali mengingat sedikit mengenai sejarah yang sudah di jalani bangsa indonesia. Jaman pra kemerdekaan hingga hari proklamasi adalah sebuah perjuangan akan eksistensi bangsa indonesia (di antara bangsa-bangsa lain) di mata dunia. oleh karena itu, jika kita pelajari sejarah sejak sumpah pemuda tahun 1928 hingga hari proklamasi tahun 1945 merupakan upaya para pendiri bangsa atas identitas indonesia sebagai sebuah kepada masyarakat dunia.
Perjalanan sejarah bangsa indonesia yang di mulai sejak era sebelum dan selama penjajahan di lanjutkan dengan era merebut dan mempertahankan kemerdekaan sampai dengan era mengisi kemerdekaan, menimbulkan kondisi dan tuntutan yang berbeda sesuai dengan zamannya. kondisi dan tuntutan yang berbeda tersebut di tanggapi oleh bangsa indonesia berdasarkan nilai-nilai semangat kebangsaan kejuangan yang senantiasa tumbuh dan berkembang yang di landasi oleh jiwa, tekad dan semangat kebangsaan. kesemuanya itu tumbuh menjadi kekuatan yang mampu mendorong proses terwujudnya NKRI dalam wadah nusantara.
Jauh sebelum indonesia terbentuk, bangsa indonesia pernah mengalami rangkaian sejarah panjang mulai dari kerajaan-kerajaan hindu yang berpusat di kutai kertanegara pada abad ke-5 M hingga di lanjutkan budha pada awal abadke-7 M dengan kerajaan sriwijya yang berpusat di sumatra hingga di lanjutkan di majapahit yang dapat menyatakan nusantara dengan corak kebhinnekaan hingga ke-4 M, bangsa indonesia sudah kenyang akan sejarah dan pergolakan panjang di dalamnya hingga sebuah cita-cita kemerdekaan pun telah terwujud sekitar 65 tahun yang lalu.
Serangkaian perjalanan sejarah bangsa indonesia tersebut menunjukan bahwa pentingnya kita untuk memahami makna keindonesian terlebih lagi mengenai toleransi, karena bangsa indonesia ini merupakan bangsa yang majemuk dan beragam baik budaya maupun sukunya, hal tersebut menyebabkan indonesia rentan akan perpecahan, namun dengan kita memahami makna keindonesian dan juga toleransi, kita dapat mengatasi berbagai kemungkinan yang dapat menyebabkan disintegrasi pada bangsa indonesia.

PSIKOLOGI ISLAM


Ditulis oleh: Lisya Metta Damayanti
(Biro Kajian dan Wacana Rayon Psikologi dan Kesehatan)
Kesehatan Jiwa Menurut Paradigma Islam (Kajian Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist)


Istilah kesehatan jiwa selama ini lebih dikenal dengan istilah kesehatan mental yang merupakan terjemahan dari mental health. Psikologi Barat memandang pengendali perilaku berpusat pada diri (self/ego) manusia. Paradigma Islam justru meniadakan self (diri) untuk diserahkan kepada Allah (Hollins, 2006). Pilar Islam adalah kalimat Lailaha ilallah, tiada Tuhan selain Allah menyuruh manusia meniadakan semua keterikatan kecuali hanya kepada Allah. Berkaitan dengan kesehatan jiwa (mental) Islam memandang bahwa keterikatan kepada Allah sebagai sumber kebahagiaan, sehingga kebahagiaan dunia dan akhirat sebagai tolok ukur kebahagiaan sejati. Keselamatan (kebahagiaan) dunia dan akhirat sebagai hal yang sangat penting untuk dijadikan visi dan tujuan hidup manusia. Hal ini menjadi harapan manusia, yang ditunjukkan dalam surat Al Baqarah 201: Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka “Rasulullah juga berpesan dalam hadist: “barang siapa ingin mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat, harus berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunah.”
Semua petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan bersumber dari hubungan baik antara manusia dengan Allah (hablu minnallah), serta dengan manusia yang lain (hablu minannas). Ketenangan jiwa sebagai puncak kesehatan mental hanya bisa diraih dengan jalan mensucikan jiwa dengan bertaubat dan beramal shaleh. Pada akhirnya perjumpaan dengan Allah hanya dapat diraih oleh jiwa yang tenang.
1.    Kesehatan Jiwa menurut Al Quran
Aspek-aspek yang mendasari kesehatan jiwa adalah kecintaan kepada akhirat dan ketaqwaan kepada Allah dan Rasul. Rasulullah bersabda bahwa umatnya di hari akhir akan menderita penyakit hati yaitu cinta dunia dan takut mati. Segala macam penyakit hati seperti kecemasan, depresi, semuanya bersumber dari kecintaan kepada dunia. Dunia sering digambarkan sebagai harta, tahta (kedudukan, gelar), dan wanita (nafsu seksual). Ketiga macam godaan tersebut sering melalaikan manusia dan menjerumuskan manusia ke dalam kehinaan dunia dan akhirat. Orang-orang yang bertaqwa akan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia, karena mereka memahami bahwa mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda.  Pada kenyataannya sebagian besar orang yang mengalami kehancuran adalah mereka yang haus kekuasaan, gelar, status, dan pujian dari orang banyak (AL-Ghazali, 2007). Sesungguhnya tujuan hakiki manusia adalah kebahagiaan akhirat. Manusia, harta benda, kekayaan, gelar dan ibadah kita hanyalah perantara untuk menuju Allah.
2.      Kecintaan Pada Akhirat Sebagai Sumber Kesehatan Jiwa
Allah sudah menjelaskan dalam ayat-ayat Al Quran berikut ini bahwa kehidupan dunia merupakan permainan dan kesenangan yang menipu. QS Al-Hadid (57) ayat 20: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Orang-orang yang lebih mengutamakan dunia dikatakan sebagai orang yang melampaui batas, sebagaimana Allah berfirman dalam QS An Naazi’aat (79), ayat 37-41: Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya), Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tunannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).
Penjelasan dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut di atas memberikan pesan bahwa kehidupan akhirat lebih menjanjikan kebahagiaan yang berlipat ganda dibandingkan kehidupan dunia yang bersifat sementara (sebentar) seperti gambaran dalam QS An-Nisaa (4) ayat 77. Allah membolehkan menikmati kesenangan dunia, namun dengan cara yang tidak melampaui batas, agar manusia tidak lalai dan meraih kebahagiaan hakiki.

GIZI HALAL


Ditulis oleh: Bagus Diky Prayogo
(Biro Kajian dan Wacana PMII Rayon Psikologi dan Kesehatan)

A.      Selayang Pandang Gizi Halal
Gizi dalam pengertian sederhana yaitu zat yang berfungsi untuk menyediakan energi, membangun, dan memelihara jaringan tubuh, serta mengatur proses-proses metabolisme dalam tubuh. Hal tersebut kemudian berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Gizi berkaitan erat dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas yang akan mempengaruhi tingkat ekonomi seseorang dimasa mendatang.
Salah satu dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan khususnya dibidang gizi yaitu memungkinkan adanya percampuran antara bahan halal dengan haram, baik disengaja maupun tidak disengaja pada saat proses pengolahan pangan. Diperlukan suatu kajian khusus yang melibatkan pengetahuan dibidang pangan, biokimia, teknik industri, biologi, kimia, farmasi dan pemahaman tentang syariat islam untuk mengetahui kehalalan dan kesucian suatu pangan. Seringkali terjadi perubahan dari makanan berstatus halal menjadi tidak halal yang disebabkan adanya bahan tambahan pangan (BTP), seperti zat kimia dan ekstraksi dari hewan yang tidak halal. Kajian khusus tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan memberikan sertifikasi dan labelisasi halal yang bertujuan untuk menghilangkan kekhawatiran konsumen khususnya konsumen muslim dan pelaku usaha pangan terkait kehalalan suatu produk pangan. Oleh karena itu, memilih makanan adalah salah satu bentuk ketaqwaan dan ketaatan manusia pada aturan Allah. Hal ini juga disampaikan dalam QS Al Baqarah ayat 168
 “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.“.
Mengkonsumsi makanan halal adalah hak dasar setiap muslim yang ada didunia. Hal ini bukan saja terkait dangan keyakinan beragama, namun berkaitan dengan kesehatan, ekonomi, dan keamanan. Jika dilihat dari segi ekonomi, produk halal bukan saja menganai makanan, melainkan juga obat, kosmetika, bahkan juga wisata halal. Permintaan produk halal kian meningkat seiring bertambahnya waktu dan populasi muslim. Indonesia sendiri menyimpan potensi besar terkait hal ini. "Negara kaya akan SDA dan SDM, memiliki populasi muslim terbesar di dunia, dan memiliki dukungan pemerintah berupa UU Jaminan Halal  yang telah terbentuk beserta dengan LPPOM MUI. Sedangkan jika dilihat dari segi kesehatan makanan halal memiliki manfaat sebagai berikut : Menjaga kesehatan baik jasmani dan rohani, Memperoleh iman dan ketaqwaan dari Allah SWT, Memberikan ketenangan dalam kehidupan dan kegiatan sehari hari, Mendapatkan perlindungan dari Allah SWT, Mendapatkan rezeki yang barokah baik dunia dan juga akherat, dan Memperoleh kepribadian jujur dalam hidup dan sikap yang apa adanya.

PENGANTAR STUDI GENDER

Ditulis oleh Arini Suvi L
(Biro Kajian dan Wacana Rayon Psikologi dan Kesehatan)

A.      Pengantar
Sejarah menorehkan bahwa pergerakan perempuan tidak luput dari dinamika yang dikaitkan dengan kondisi sosial politik baik dalam sekala regional, nasional, bahkan internasional. Isu perempuan sudah bukan hanya sebagai isapan jempol belaka, hal ini dapat kita lihat bahwa modernisasi dan persinggungan budaya merupakan hal yang kongkret yang meharuskan untuk selalu waspada, mawas diri, baik secara individu maupun komunitasnya dalam menghadapi realita yang terjadi dan tidak lari meninggalkanya. Budaya patriarki yang berkembang menunjukan bahwa laki-laki adalah makhluk yang kuat dan rasional sementara perempuan adalah makhluk yang lemah dan emosional merupakan konstruksi sosial budaya.
Di era globalisasi saat ini, perhatian dunia terhadap pembangunan yang berbasis gender semakin besar. Seperti yang telah kita ketahui bersama hampir di seluruh Negara telah terjadi diskriminasi gender. Ketidakadilan gender merupakan akibat dari adanya sistem (stuktur) social dimana salah satu jenis kelamin (laki-laki atau perempuan) menjadi korban. Hal tersebut terjadi karena akibat buruk dari kurangnya pemahaman dan kesadaran akan gender serta keyakinan dan pembenaran yang telah membudaya disepanjang peradaban manusia.
Padahal apabila kita melihat, banyak tokoh-tokoh perempuan justru dapat mendapatkan pencapaian yang belum tentu bisa dilakukan oleh laki-lakipun. Terlebih di Indonesia, sejarah telah mencatat tokoh-tokoh perempuan indonesia yang begitu heroik dan luar biasa. Sebut saja Malahayati seorang wanita berdarah kelahiran Aceh yang menjadi laksamana angkatan laut pertama di dunia yang membawahi 200 kapal perang dengan 2000 pasukan berhasil memenangkan duel dengan laksamana dari belanda, berkat jasanya Malahayati mendapatkan gelar pahlawan nasional pada tahun 2017.
Selain itu kita juga tau ratu Shima yang mengantarkan kerajaan Kalingga pada puncak kejayaan, ada cut nyak dien yang gigih meminpin pasukanya guna melawan Belanda, dan masih banyak lagi. Ironisnya kehebatan-kehebatan tersebut sekarang justru tertutup hilang entah kemana.
B.       Apa itu Gender?
Istilah ‘gender’ sudah tidak asing lagi di telinga kita, tetapi masih banyak di antara kita yang belum memahami dengan benar istilah tersebut. Gender sering diidentikkan dengan jenis kelamin (sex), padahal gender berbeda dengan jenis kelamin. Gender sering juga dipahami sebagai pemberian dari Tuhan atau kodrat Ilahi, padahal gender tidak semata-mata demikian.
Secara etimologis kata ‘gender’ berasal dari bahasa Inggris yang berarti ‘jenis kelamin’ (Echols dan Shadily, 1983: 265). Gender diartikan sebagai ‘perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku’. Hilary M. H.T. Wilson mengartikan ‘gender’ sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi lakilaki dan perempuan. Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa gender adalah suatu sifat yang dijadikan dasar untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi kondisi sosial dan budaya. Gender dalam arti ini adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati.
C.       Perbedaan Sex dengan Gender
Gender berbeda dengan sex, meskipun secara etimologis artinya sama, yaitu jenis kelamin (Echols dan Shadily, 1983: 517). Secara umum sex digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis, sedang gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, dan aspek-aspek nonbiologis lainnya. Kalau studi sex lebih menekankan kepada perkembangan aspek biologis, komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, serta karakteristik biologis lainnya dalam tubuh seorang laki-laki dan seorang perempuan, maka studi gender lebih menekankan kepada perkembangan aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya. Jika studi sex lebih menekankan kepada aspek anatomi biologi dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness) dan perempuan (femaleness), maka studi gender lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) dan (femininity) femininitas seseorang.
Menurut tinjauan sex, seorang laki-laki bercirikan seperti memiliki penis, memiliki jakala, dan memproduksi sperma; sedang seorang perempuan bercirikan seperti memiliki vagina, memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memiliki payudara, dan memproduksi sel telur. Ciri-ciri ini melekat pada laki-laki dan perempuan dan tidak dapat dipertukarkan satu sama lain. Semua ciri-ciri tersebut diperoleh secara kodrati dari Tuhan. Sedang menurut tinjauan gender, seorang perempuan memiliki ciri-ciri seperti cantik, lemah lembut, emosional, dan keibuan, sedang seorang laki-laki memiliki ciri-ciri seperti kuat, rasional, gagah, perkasa, jantan, dan masih banyak lagi yang lain. Ciri-ciri ini tidak selamanya tetap, tetapi dapat berubah. Artinya tidak semua laki-laki atau perempuan memiliki ciri-ciri seperti tersebut. Ciri-ciri itu bisa saling dipertukarkan. Bisa jadi ada seorang perempuan yang kuat dan rasional, tetapi ada juga seorang laki-laki yang lemah lembut dan emosional.
Tegasnya, dalam khazanah ilmu-ilmu sosial, gender diperkenalkan untuk mengacu kepada perbedaan-perbedaan antara perempuan dengan laki-laki tanpa konotasikonotasi yang sepenuhnya bersifat biologis, tetapi lebih merujuk kepada perbedaanperbedaan akibat bentukan sosial. Karena itu, yang dinamakan relasi gender adalah seperangkat aturan, tradisi, dan hubungan sosial timbal balik dalam masyarakat dan dalam kebudayaan yang menentukan batas-batas feminin dan maskulin (Macdonald dkk, 1999: xii).
Jadi, gender menjadi istilah kunci untuk menyebut femininitas dan maskulinitas yang dibentuk secara sosial yang berbeda-beda dari satu kurun waktu ke kurun waktu yang lain, dan juga berbeda-beda menurut tempatnya. Berbeda dengan sex (jenis kelamin), perilaku gender adalah perilakau yang tercipta melalui proses pembelajaran, bukan semata-mata berasal dari pemberian (kodrat) Tuhan yang tidak dapat dipengaruhi oleh manusia.
Sejarah perbedaan gender antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang dan dibentuk oleh beberapa sebab, seperti kondisi sosial budaya, kondisi keagamaan, dan kondisi kenegaraan. Dengan proses yang panjang ini, perbedaan gender akhirnya sering dianggap menjadi ketentuan Tuhan yang bersifat kodrati atau seolah-olah bersifat biologis yang tidak dapat diubah lagi. Inilah sebenarnya yang menyebabkan awal terjadinya ketidakadilan gender di tengah-tengah masyarakat.
D.      Potret Gender
Pengaruh patriarki bisa diminimalisir dan dihilangkan tentunya dengan cara membangun kesepahaman tentang konsepsi gender itu sendiri. Dimana konsep tersebut atau konstruksi sosial yang mengacu pada hubungan (relasi) sosial yang membedakan fungsi dan peran perempuan dan laki-laki bukan atas dasar biologis atau kodrat, tetapi berdasarkan hak politiknya, ekonominya, sosial kemasyarakatanya, budayanya dan lain sebagainya. Sehingga pemahaman gender bukan hanya sebagai suatu paket penfetahuan yang tunggal dan superior namun tetap harus berpijak dengan lokal wisdom.

NILAI DASAR PERGERAKAN

Ditulis oleh: Zahrotun Nafisa
(Biro Kajian dan Wacana Rayon Psikologi dan Kesehatan)
NDP Sebagai Falsafah Bergerak Dalam Menerjemahkan Nilai-Nilai Ke-Islaman, Ke-Indonesiaan dan Kemanusiaan

A. Prawacana
Dalam konteks landasan bergerak, dasar filosofis dari setiap aktivitas berpikir, bertutur kata serta bertingkah laku, PMII memiliki Nilai Dasar Pergerakan.
Kata nilai itu sendiri secara umu mengandung pengertian konsep yang menunjuk pada hal-hal yang dianggap berharga dalam kehidupan manusia, yaitu tentang apa yang dianggap baik, layak, pantas, benar, penting, indah, dan dikehendaki dalam kehidupan.
Nilai-nilai dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah basis filosofis dari setiap aktifitas berpikir, berucap dan bertindak, yang mencerminkan tujuan bersama yang hendak dicapai. Nilai Dasar Pergerakan tersebut merupakan suatu bentuk sublimasi antara nilai-nilai keIslaman, kemanusiaan, keadilan, dan keIndonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah, dan mendorong serta penggerak dalam kegiatan-kegiatan PMII untuk mencapai satu tujuan yang sama.
Sebagai falsafah gerakan mahasiswa, NDP menjadi sebuah keyakinan yang mendasari dalam menerjemahkan platform dalam bergerak dimana NDP tersebut berperan dalam menerjemahkan hubungan antara hubungan gagasan dengan realitas dalam pengalaman Ahlussunnah wal Jama’ah. Jika diibaratkan manusia, pergerakan adalah jasadnya, sedangkan NDP adalah ruh yang menghidupi jasad tersebut. Jika ada sebuah upaya pergerakan tanpa memiliki nilai-nilai yang menjadi ruh, maka pergerakan tak ubahnya seperti sebuah mayat hidup. Oleh karena itu, NDP kemudian dijadikan sebuah landasan dan arah bergerak dalam mewujudkan nilai-nilai keIslaman, keIndonesiaan, dan kemanusiaan.
Kemudian sebagai pemberi keyakinan dan pembenaan mutlak, Islam mendasari dan menginspirasi NDP ynag meliputi cakupan akidah, syariah dan akhlak dalam upaya kader PMII untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.

B. Kedudukan dan Fungsi NDP
a.       Kedudukan NDP
1.      Nilai Dasar Pergerakan menjadi sumber kekuatan ideal-moral dari aktifitas pergerakan.
2.      Nilai dasar pergerakan menjadi pusat argumentasi dan pengikat kebenaran dan kebebasan berpikir, berucap dan bertindak dalam suatu aktivitas pergerakan.
b.      Fungsi NDP
1.      Landasan Berpikir
Bahwa NDP menjadi landasan pendapat yang dikemukakan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi, landasan untuk menyampaikan gagasan, ide-ide dan nilai-nilai yang akan memperkuat level kebenaran ideal yang ditemukan pada setiap persoalan yang dihadapi.
2.      Landasan Berpijak
Bahwa NDP menjadi landasan setiap gerak langkah dan kebijakan yang harus dilakukan, landasan bergerak dalam aksi, aktualisasi, kerja nyata, dan analisis sosial untuk mecapai kebenaran faktual.
3.      Landasan Ideologis
Bahwa NDP menjadi rumusan dalam bergerak dan berpikir, berbuat, dan bergerak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya guna mendorong terciptanya proses yang progresif dalam kehidupan sosial.
C.      Rumusan NDP
1.      Tauhid
Meng-Esakan Allah SWT, merupakan nilai paling sesuai dalam konsepsi NDP dimana dalam sejarah agama samawi terkandung hakikat kebenaran manusia sejak awal keberadaannya. Allah adalah Esa dalam segala dzat, sifat-sifat dan kehendak-Nya.
Allah adalah esa dalam segala totalitas, dzat, sifat dan perubahan Allah. Keyakinan seperti itu merupakan keyakinan terhadap sesuatu yang lebih tinggi dari pada alam semesta, serta merupakan kesadaran dan keyakinan kepada yang ghaib. Oleh karena itu, tauhid merupakan titik puncak, melandasi, dan menjadi sasaran keimanan yang mencakup keyakinan dalam hati, penegasan lewat lisan, dan perwujudan dalam perbuatan. Maka konsekuensinya pergerakan harus mampu melarutkan nilai-nilai tauhid dalam berbagai kehidupan serta terkomunikasikan dan merambah ke sekelilingnya. Dalam memahami dan mewujudkan itu, pergerakan telah memiliki Ahlussunnah wal jama’ah sebagai metode pemahaman dan penghayatan keyakinan itu. Dengan demikian, maka kader PMII harus menerapkan nilai-nilai Tauhid dalam kehidupan sehari-hari sehingga dalam mehami dan menghayati ke-Esaan Allah SWT, PMII telah meiliki landasan yang kuat karena berpedoman Ahlussunnah wal jama’ah sebagai metode pemahaman dan penghayatan keyakinan tersebut.

2.      Hubungan Manusia dengan Allah
Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk manusia. Dia menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baik dan menganugerahkan kedudukan terhormat kepada manusia di hadapan ciptaan-Nya yang lain.
Kedudukan seperti itu ditandai dengan pemberian daya fikir, kemampuan berkreasi dan kesadaran moral. Potensi itulah yang memungkinkan manusia memerankan fungsi sebagai hamba (‘abd) dan wakil Tuhan di muka bumi (kholifatul fil ard). Sebagai hamba Allah, manusia harus melaksanakan ketentuan-ketentuannya. Untuk itu manusia dilengkapi dengan kesadaran moral yang selalu harus dirawat, manusia tidak ingin terjatuh ke dalam kedudukan yang rendah.
Tugas utama manusia sebagai hamba Allah yaitu mengabdi dan menyembah Tuhan yang tercantum dalam QS. Al-Dzariyat ayat 56:     لِيَعْبُدُونِ إِلَّا وَالْإِنْسَ الْجِنَّ خَلَقْتُ وَمَا
yang artinya (“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”).  Meng-Esakan Tuhan dan tidak menyekutukan serta menyerupakan Tuhan dengan makhluk yang lainnya (QS. Al-Ikhlas: 1-4), selain itu manusia juga diberi kewajiban untuk beribadah dan mengikhlaskan semua amal ibadahnya hanya untuk Allah (Qs: Shad : 82-83). Sedangkan sebagai pemimpin di muka bumi, manusia memiliki kewajiban untuk menjaga dan memakmurkan lingkungan sekitarnya, bukan malah merusaknya. (Qs. Al-Baqarah : 30). Kedua pola tersebut harus mampu berjalan selaras dan seimbang agar mampu mengantarkan manusia pada posisi kemanusiaan yang sesungguhnya dan akan mampu menginterpretasikan nilai dan prinsip Tauhid secara utuh dan holistik.
Dengan demikian, dalam kedudukan manusia sebagai ciptaan Allah, terdapat dua pola hubungan manusia dengan Allah, yaitu pola yang didasarkan pada kedudukan manusia sebagai khalifah Allah dan sebagai hamba Allah. Kedua pola ini dijalani secara seimbang, lurus dan teguh dengan tidak hanya menjalani yang satu dengan mengabaikan yang lain. Sebab memilih salah satu pola akan membawa manusia kepada kedudukan dan fungsi manusia yang tidak sempurna. Sebagai akibatnya manusia tidak akan dapat mengejawantahkan prinsip tauhid secara maksimal. Pola hubungan manusia dengan Allah ini disebut juga pola vertikal yakni hubungan individu dengan Sang Pencipta.

3.      Hubungan Manusia dengan Manusia
Manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna di antara makhluk-makhluk Allah lainnya yang ditandai dengan ruh yang ditiupkan Allah kepada raga manusia dan pemberian cipta, rasa dan karsa. Hal ini menunjukkan bahwa maanusia memiliki kedudukan paling mulia di antara ciptaan Allah lainnya. Memahami ketinggian eksistensi dan potensi yang dimiliki manusia tersebut, maka manusia memiliki kedudukan yang sama antara satu dengan yang lainnya. Sebagai warga dunia manusia adalah satu, sebagai warga negara manusia adalah bangsa dan sebagai mukmin manusia adalah bersaudara.
Adapun di hadapan Allah, manusia dibedakan oleh Allah dalam hal ketaqwaannya, bukan karena harta ataupun jabatannya di dunia. Masing-masing manusia diciptakan dengan beragam potensi mulai dari potensi kebaikan maupun potensi kelemahan. Oleh karena itulah manusia harus meneguhkan iman, takwa, dan amal sholeh guna mewujudkan kehidupan yang baik dan menjadi rahmat di dunia. Dalam hubungannya dengan sesama manusia, hubungan ini dikatakan sebagai pola horizontal yakni hubungan yang sejajar dan perlu adanya timbal balik.
Manusia adalah makhluk sosial, yakni tidak mungkin bisa hidup sendiri sehingga terciptalah komunitas yang bernama masyarakat dan negara. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membina kerukunan dengan semua orang Islam (Ukhuwah Islamiyah) maupun dengan non-Islam guna membangun persaudaraan yang kekal hingga akhir hayat serta terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh manusia di muka bumi. Selain itu, manusia juga dituntut untuk saling menghormati, bekerjasama, serta saling menasehati dan mengajak kepada kebenran demi kebaikan bersama. Banyak hal yang dilakukan untuk menjalin hubungan antara manusia, seperti yang disebutkan dalam QS. Al-Balad ayat 17 untuk saling tolong-menolong dan kasih sayang.
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
”Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam hubungan antar manusia tercakup dalam persaudaraan antar insan pergerakan, persaudaraan sesama umat Islam (al-Hujuraat, 9-10), persaudaraan sesama warga negara dan persaudaraan sesama umat manusia.Perilaku persaudaraan ini harus menempatkan insan pergerakan pada posisi yang dapat memberikan manfaat maksimal untuk diri dan lingkungannya.
Kita hidup bernegara di Indonesia yang merupakan negara plural, memiliki beraneka ragam agama, suku, adat istiadat, budaya dan bahasa yang beraneka ragam. Dengan demikian, maka perlu adanya kesadaran kebangsaan yang mempersatukan bangsa dalam kesatuan cita-cita menuju kemanusiaan yang adil dan beradab (Ukhuwah Islamiyah). Dan untuk mencapai keadilan yang demikian maka dalam kehidupan bernegara warga harus saling menghhormati harkat dan martabat, derajat serta berlaku adil guna menciptakan kerjasama secara damai untuk kehidupan bersama. Selain itu, masyarakat juga dituntut untuk saling menghormati, bekerjasama, tolong-menolong, menasehati dan saling mengajak kepada kebenaran demi kebaikan bersama.
Di sisi lain, Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang ada di muka bumi ini melainkan juga berdampingan dengan banyak negara lainnya. Maka selanjutnya kita juga perlu memperhatikan adanya nilai-nilai humanisme universal (Ukhuwah Islamiyah) yang mengikat seluruh umat manusia dengan satu ikatan kokoh bernama keadilan.
Nilai-nilai yang dikembangkan antara manusia tercakup dalam persaudaraan antara insan pergerakan, sesama umat Islam, warga negara dan sesama umat manusia. Sehingga perilaku ini menempatkan insan pergerakan pada posisi yang diharapkan dapat memberikan  manfaat untuk diri maupun lingkungan sekitarnya. PMII sebagai organisasi kaderisasi tidak terpisahkan dengan hubungan antar masyarakat yang beraneka ragam baik muslim maupun non muslim serta hubungan dengan Negara Indonesia. Hubungan ini sudah selayaknya memberikan dampak nilai positif sebagai organisasi pergerakan yang mampu menerjemahkan nilai-nilai keadilan, keselarasan, toleransi,tanggung jawab dan gotong royong dalam mencapai kesamaan derajat dalam kemanusiaan.

4.      Hubungan Manusia dengan Alam
Alam yang diciptakan oleh Allah SWT tak ubahnya menunjukkan tanda-tanda keberadaan, kebesaran, sifat dan perbuatan Allah yang menunjukkan makna bahwa nilai tauhid juga mencakup hubungan manusia dengan alam. Alam semesta adalah ciptaan Allah, (Q.S. Hud:61, Al-Qoshash:77). Dia menentukan ukuran dan hukum-hukumnya, (Q.S. An-Nahl: 122, Al-Baqoroh:130, Al-Ankabut:38).
Dia menentuka kadar dan hukum-hukumnya, alam juga menunjukan tanda-tanda kebenaran, sifat dan perbuatan Allah, Allah mendudukan  Alam untuk manusia, dan bukan  sebaliknya. Jika hal ini terjadi dengan sebaliknya, maka manusia akan terjebak dalam penghamban kepada alam, bukan kepada Allah, Allah menciptakan manusia sebagai kholifah, sudah sepantasnya manusia menjadikan  bumi maupun alam sebagi wahana dalam bertauhid dan bukan sebagi obyek ekspolitas, hal ini terkandung dalam surat Al-Qashas:77.
الْمُفْسِدِينَ يُحِبُّ لَا اللَّهَ إِنَّ ۖ الْأَرْضِ فِي الْفَسَادَ تَبْغِ وَلَا
 Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Manusia memiliki peranan dalam memimpin dan mengelola alam ciptaan Alalah di antaranya melalui pemanfaatan sumber daya alam, memakmurkan bumi dan  menyelenggarakan kehidupan demi tercapainya kemakmuran di dunia yang diarahkan kepada kebaikan di akhirat. Cara-cara yang demikian dilakukan untuk mencukupi kebutuhan dasar dalam kehidupan bersama, seperti kebutuhan manusia terhadap pekerjaan, nafkah dan masa depan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu contoh hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Manusia menciptskan hal tersebut salah satunya yakni dengan tujuan dalam rangka memudahkan pemanfaatan alam dimana alam memiliki ukuran, aturan, dan hukum tertenu. Hal ini dilakukan karena alam  ciptaan Allah tak seutuhnya siap pakai melainkan perlu adanya pemahaman terhadap alam dan ikhtiar untuk mendayagunakannya.
Maka jelaslah hubungan manusia dengan alam ini merupakan hubungan horizontal seperti hubungan manusia dengan manusia, yakni hubungan pemanfaatan alam untuk kemakmuran bersama. Hidup bersama antara manusia dengan alam berarti hidup dalam kerjasama, tolong menolongan dan tenggang rasa. Implementasinya, setiap kader harus menjaga alam dari bahaya yang merusaknya. Misalnya, menjaga alam dari bahaya nuklir, penebangan hutan, eksploitasi alam atau kerusakan alam akibat bom bunuh diri yang akhir–akhir ini ramai diperbincangkan. Ini semua dilakukan sebagai bentuk implementasi nilai–nilai yang ada di PMII dalam menjaga alam dan manusia itu sendiri.
D.      Implementasi NDP dalam PMII
PMII menggunakan NDP sebagai landasan teologis, normatif, etis, dan motivatis dalam pola berpikir, sikap dan perilaku kader baik secara individu maupun kolektif keorganisasian lembaga. NDP harus selalu dikaji dan dipahami secara mendalam dan komperehensif agar mampu dihayati secara utuh dan holistik, dijadikan pegangan secara teguh dan mampu diterjemahkan dalam berperilaku.
Pengalaman NDP akan selalu selaras dan seimbang dengan tujuan hidup dalam menerjemahkan nilainilai keIslaman, ke-Indonesiaan, dan kemanusiaan. Nilai  ke-Islaman yang di maksud adalah Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai landasan teologis normatif. Kemudian nilai ke-Indonesiaan yakni sebuah tujuan pejuangan PMII yang tidak terlepas dari cita-cita besar NKRI sesuai dengan UUD 945 yakni menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Sedangkan nilai kemanusiaan yang dimaksud adalah kader PMII mampu mewujudkan dan mengaktualisasi dirinya menjadi manusia seutuhnya yang merdeka, memiliki kehendak dan mampu melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba di hadapan Allah SWT.
Dengan adanya NDP ini, para kader diharapkan agar selalu mengingat-Nya dan patuh akan aturan-Nya serta menjauhi segala larangan yang sudah ditetapkan. Mencari ridho Allah adalah target harapan dari semua gerak/tindakan/perilaku yang didapatkan tidak mudah.
Adapun nilai yang mendasar lainnya yang berhubungan dengan manusia, mahasiswa diharapkan agar dapat berhubungan dengan manusia dengan baik dengan selalu menjaga dan membantu antar umat dengan baik. Pada kader saat ini dilihat secara objektif banyak yang sudah tanggap terrhadap keadaan manusia, kalau kita amati bahwa mahasiswa begitu antusiasnya dalam keikutsertanya dalam pembangunan negeri ini yang utamanya untuk kepentingan manusia banyak tetapi nilai yang mendasar untuk melindungi seluruh umat manusia dengan seadil-adilnya masih berat dirasakan. Selain hubungan dengan Allah SWT dan manusia yang harus terjalin baik atas dasar nilai gerakan sosok mahasiswa ada satu lagi yaitu hubungan dengan alam. Alam merupakan tempat dimuka bumi yang terdapat banyak unsur dan macam-macamnya tidak terlepas dari kehidupan dan kebutuhan manusia. Sebagai tempat hidup dan tempat menjalani semua aktifitas maka perlu adanya tempat yang baik dan nyaman untuk melakukan sebuah tindakan gerak. Sebagai mahasiswa tempatnya para ilmuan dan para intelektual perlu sekali untuk mengkaji alam ini agar dapat terlestari dengan baik.

AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH (ASWAJA )



Ditulis oleh : Muhammad Ulin Nuha
(Biro Kajian dan Wacana Rayon Psikologi dan Kesehatan)

A.      Sejarah ASWAJA
Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) lahir dari pergulatan intens antara doktrin dengan sejarah. Di wilayah doktrin, debat meliputi soal kalam mengenai status Al-Qur’an, apakah ia makhluk atau bukan, kemudian debat antara sifat-sifat Allah antara ulama Salafiyyun dengan golongan Mu’tazilah, dan seterusnya. Di wilayah sejarah, proses pembentukan Aswaja terentang hingga zaman Khulafa’ur Rasyidin, yakni dimulai sejak terjadi perang Shiffin yang melibatkan khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dengan Muawiyah. Bersama kekalahan khalifah keempat tersebut, setelah dikelabui melalui arbitrase (tahkim) oleh kubu Muawiyah, umat Islam semakin terpecah ke dalam berbagai golongan. Di antara mereka terdapat Syi’ah yang secara umum dinisbatkan kepada pengikut khalifah Ali bin Abi Thalib, golongan Khawarij yakni pendukung Ali yang membelot karena tidak setuju dengan tahkim, dan ada pula kelompok Jabariyah yang melegitimasi kepemimpinan Mu’awiyah.
Selain tiga golongan tersebut, masih ada Murji’ah dan Qodariyah, faham bahwa segala sesuatu terjadi karena perbuatan manusia dan Allah tidak turut campur (Af’al Al-ibad min Al-ibad), berlawanan dengan faham Jabariyah. Di antara kelompok-kelompok itu, adalah sebuah komunitas yang dipelopori oleh Imam ,Abu Sa’id Hasan ibn Hasan Yasar Al-Bashri (21-110 H/639-728 M), lebih dikenal dengan nama Imam Hasan Al Bashri, yang cenderung mengembangkan aktifitas keagamaan yang bersifat kultural (tsaqofiyah), ilmiah, dan berusaha mencari jalan kebenaran secara jernih. Komunitas ini menghindari pertikaian politik antara berbagai fraksi politik (firqoh) yang berkembang ketika itu. Sebaliknya, mereka mengembangkan sikap keberagaman dan pemikiran yang sejuk, moderat, dan tidak ekstrim. Dengan sistem keberagaman semacam itu, mereka tidak mudah untuk mengkafirkan golongan atau kelompok lain yang terlibat dalam pertikaian politik ketika itu.
Seirama waktu, sikap dan pandangan tersebut diteruskan ke generasi-generasi ulama setelah beliau, di antaranya Imam Abu Hanifah Al-Nu’man (150 H), Imam Malik Ibn Anas (179 H), Imam Syafi’i (204 H), Ibn Kullab (204 H), Ahmad Ibn Hanbal (241 H), hingga tiba pada generasi Abu Hasan Al-Asy’ari (324 H) dan Abu Mansur Al-Maturidi (333 H). Kepada dua ulama terakhir inilah permulaan faham Aswaja sering dinisbatkan, meskipun bila ditelusuri secara teliti, benih-benih faham Aswaja ini sebenarnya telah tumbuh sejak dua abad sebelumnya.
Indonesia merupakan salah satu penduduk dengan jumlah penganut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah terbesar di dunia. Mayoritas pemeluk Islam di kepulauan ini adalah penganut madzhab Syafi’i, dan sebagian terbesarnya bergabung -baik tergabung secara sadar maupun tidak- dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama, yang sejak awal berdiri menegaskan sebagai pengamal Islam ala Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ahlussunnah wal Jama’ah’ disingkat Aswaja yang dalam pemahaman dan praktek Islamnya menyandarkan diri kepada 4 (empat) mazhab, yaitu : mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali. Mayoritas umat Islam dengan beragam pemahaman, keyakinan dan ritual keislamannya berharap dan mengklaim dirinya sebagai Ahlusunnah Wal Jama’ah (aswaja). Klaim sebagai sunni (sebutan bagi pengikut aswaja) ini adalah bagian dari ekspresi pemahamannya yang meyakini bahwa umat Islam telah terpecah belah menjadi beberapa aliran, namun diantara mereka yang selamat dan akan masuk surga hanya satu, yaitu aliran yang bernama Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sehingga orang yang merasa dirinya sebagai sunni beranggapan bahwa dirinya telah menemukan kebenaran agama, sedangkan orang lain keliru, sehingga ia berhak memberikan label “sesat” atau “kafir” kepada orang yang memiliki pemahaman keislaman yang berbeda dengannya. Mengklaim dirinya sebagai orang yang paling benar dan yang lain sesat menurut Al-Qur'an adalah sebuah kesalahan, karena secara tegas Allah berfirman
اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ الَّذِیۡنَ ہَادُوۡا وَ الصّٰبِئِیۡنَ وَ النَّصٰرٰی وَ الۡمَجُوۡسَ وَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡۤا ٭ۖ اِنَّ اللّٰہَ یَفۡصِلُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi-in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Hajj: 17)
yang akan menentukan kebenaran manusia dalam beragama adalah Allah sendiri, bukan makhluknya, dan akan diputuskan kelak di akhirat, bukan di dunia.
Sementara di sisi lain pengertian dan cakupan aswaja sendiri tidak jelas, para ulama mendefinisikannya dengan berbeda-beda. Hal ini lantaran istilah Ahlussunnah Wal Jama’ah berikut definisinya tidak pernah disampaikan oleh Allah dan rasul-Nya secara jelas baik dalam Al-Qur'an maupun Hadits.

B.       Apa itu Ahlussunnah wal jama’ah (ASWAJA)?
Secara Etimologi, Ahlussunnah Wal Jamaah dapat dikonsepsikan  Ahlun berarti pemeluk aliran atau pengikut mazhab. Al-Sunnah berarti thariqat (jalan), sedangkan Al-Jamaah berarti sekumpulan orang yang memiliki tujuan. Secara ringkas bisa disimpulkan bahwa Ahlu sunnah wal jamaah adalah semua orang yang berjalan dan selalu menetapkan ajaran Rasulullah SAW dan para sahabat sebagai pijakan hukum baik dalam masalah aqidah, syari’ah dan tasawwuf.
Aswaja secara Terminologi dapat didefinisikan bahwa Aswaja adalah orang yang memiliki metode berpikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berlandasan atas dasar-dasar modernisasi, menjaga kesinambungan dan toleran, dan shalat tarawih 23 rakaat. Pandangan seperti itu pas betul dengan anggapan sementara orang luar NU terhadap perilaku warga NU sendiri. Sedangkan al Jama’ah menurut Ibn Taimiyah adalah persatuan. Ada juga yang mengartikannya sebagai ahlul Islam  yang bersepakat dalam masalah syara’. Selain itu juga ada yang mengartikannya al Sawadul A’zham (kelompok mayoritas).
Ada juga yang mengatakan bahwa al-Jama'ah, makna asalnya adalah sejumlah orang yang mengelompok. Tetapi, yang dimaksud dengan al-Jama'ah dalam pembahasan aqidah adalah Salaf (pendahulu) dari umat ini dari kalangan shahabat dan orang-orang yang mengikuti kebaikan mereka, sekalipun hanya seorang yang berdiri di atas kebenaran yang telah dianut oleh jama 'ah tersebut.
Menurut Muhammad bin Abdullah Al-Wuhaibi, istilah Ahlus Sunnah wa al Jama'ah adalah istilah yang sama dengan Ahlus Sunnah. Dan secara umum para ulama menggunakan istilah ini sebagai pembanding Ahlul Ahwa' wal Bida'. Menurutnya, kata “ahlus sunnah” mempunyai dua makna: Pertama, mengikuti sunnah-sunnah dan atsar-atsar yang yang datangnya dari Rasulullah SAW dan para sahabat, menekuninya, memisahkan yang shahih dari  yang cacat dan melaksanakan apa yang diwajibkan dari perkataan dan perbuatan dalam masalah aqidah dan ahkam. Kedua, lebih khusus dari makna pertama, yaitu yang dijelaskan oleh sebagian ulama’, dimana mereka menamakan kitab mereka dengan nama as sunnah, seperti Abu Ashim, al Imam Ahmad Ibn Hanbal, al Imam, al Khalal, dan lain-lain. Mereka mengartikan as sunnah sebagai i’tiqad shahih yang ditetapkan dengan nash dan ijma’.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa madzhab ahlussunnah wa al jama’ah itu merupakan kelanjutan dari apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Adapun penamaan ahlussunnah wa al jama’ah adalah sesudah terjadinya fitnah ketika awal munculnya firqah-firqah.
Menarik untuk dicatat, bahwa dulu Imam Malik pernah ditanya: “siapakah ahlussunnah itu ?” Beliau menjawab bahwa ahlus sunnah adalah mereka yang tidak mempunyai laqab (julukan) yang sudah terkenal, yakni bukan jahmi, qadari, dan bukan pula Rafidli. Imam Ahmad Ibn Hanbal pun pernah disebut-sebut sebagai Imam Ahlussunnah karena tindakan beliau yang gigih mempertahankan keyakinannya ketika  Khalifah al Makmun dengan faham Mu’tazilahnya gencar mengkampanyekan bahwa Qur’an adalah makhluk.
Adapun pengertian hadits secara terminologi mempunyai beberapa pengertian antara lain: pertama, Menurut terminologi para Muhadditsin, Sunnah adalah segala napak tilas Rasulullah baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat-sifat kejadian nya (bentuk tubuhnya), akhlaknya maupun sejarahnya, baik sebelum kenabian maupun sesudahnya. Kedua, Para ulama Ushul Fiqh mendefinisikan Sunnah sebagai “segala sesuatu yang dinukil dari Rasulullah, baik perkataan, perbuatan maupun taqrir”. Ketiga, menurut ulama Fiqh Sunnah sebagai suatu perbuatan yang apabila dilaksanakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, kebalikan dari fardlu atau wajib menurut mereka. Keempat, Sunnah juga diidentikkan terhadap segala yang ditunjuk oleh dalil-dalil Syar’i, baik Alqur’an, Hadits ataupun Ijtihad Sahabat, seperti pengumpulan mushaf dan pembukuan atau pengkodifikasian Hadits, temasuk di dalamnya Ijtihad sahabat sebagai Sunnah berdasar pada hadits Rasulullah SAW. berbunyi: “ ’Alaikum bi assunnatî wa sunnati al khulafâi ar râsyidîna al mahdiyyîn“. Kelima, Sunnah juga diidentikkan terhadap hal-hal yang berlawanan dengan Bid’ah.
Arti Ahlussunnah wal jama’ah itu sendiri diambil dari Hadits Rasulullah SAW yang beliau sabdakan :
“Islam akan menjadi terbagi menjadi 73 golongan, satu golongan yang masuk surga tanpa di hisab”, sahabat berkata : siapakah golongan tersebut ya Rasulullah ?, Nabi bersabda “ Ahlussunnah wal jama’ah“.
Semua golongan mengaku dirinya Ahlussunnah tetapi sebenarnya mereka bukan Ahlussunnah wal jama’ah karena banyak hal-hal yang mereka langgar yang mereka jalankan di dalam ajaran agama Islam, tetapi tetap mereka mengakui diri mereka yang benar. Sebenarnya kita harus mengetahui apa yang kita pelajari di dalam agama Islam atau yang kita amalkan di dalam Islam maka kita akan mengetahui kebenarannya di dalam ajaran Ahlussunnah wal jama’ah. Allah SWT telah mengucapkan di dalam surat Al Fatihah pada ayat yang 5 dan ayat yang ke 6, Allah SWT mengucapkan di dalam ayat yang ke 5 jalan yang lurus dan pada ayat yang ke 6 jalan-jalan mereka, yang kita tanyakan siapa mereka-mereka itu?
Ulama Ahlussunnah wal jama’ah mereka bersepakat:
a.       Mereka adalah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat-sahabatnya
b.      Penerus sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang dinamakan Tabi’in
c.       Tabi’-tabi’in adalah pengikut yang mengikuti orang yang belajar kepada sahabat Rasulullah SAW.
d.      Dan para ulama sholihin.
Berbicara tentang Ahlus Sunnah wa al Jama’ah, kiranya tak lengkap tanpa menyebut nama  dua orang tokoh yang begitu disegani di kalangan faham ini. Mereka  adalah Abu al Hasan  al Asy’ari dan Abu Manshur al Maturidi. Bahkan beberapa ulama’ mengatakan bahwa ahlus sunnah wa al jama’ah adalah pengikut Asy’ariyah dan Maturidiyah. Contoh misalnya, al Zubaidi yang pernah mengatakan: “Jika dikatakan ahlus sunnah, maka yang dimaksud dengan mereka adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah”. Senada dengan al Zubaidi adalah Hasan Ayyub yang mengatakan: “Ahlus Sunnah adalah Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka berdua. Mereka berjalan di atas petunjuk Salafus Shalih dalam memahami aqaid”.
Tokoh yang pertama bernama lengkap Abu Hasan Ali Ibn Ismail Ibn Bishri Ishaq Ibn Salim Ibn Ismail Ibn Abdullah Ibn Musa  Ibn Bilal Ibn Abi Bardah Ibn Abi Musa al Asy’ari (260 H – 330 H). Dia dikenal sebagai pendiri teologi sunni, meskipun sebelumnya dia adalah pengikut Mu’tazilah dan pernah menjadi murid al Jubba’i. Kurang lebih sejak 1995/1997, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia meletakkan Aswaja sebagai Manhajul Fikr. PMII memandang bahwa Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah orang-orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan dengan berlandaskan atas dasar moderasi, menjaga keseimbangan, dan toleran. Aswaja bukan sebuah madzhab, melainkan sebuah metode dan prinsip berfikir dalam menghadapi persoalan-persoalan agama sekaligus urusan sosial-kemasyarakatan; inilah makna Aswaja sebagai Manhaj Al-Fikr.

C.      ASWAJA Sebagai Manhaj Al-Fikr
Konsep dasar yang dibawa dalam aswaja sebagai manhaj al fikr tidak dapat dilepas dari gagasan KH. Said Aqil Siraj yang mengundang kontroversi, mengenai perlunya aswaja ditafsir ulang dengan memberikan kebebasan lebih bagi para intelektual dan ulama’ untuk merujuk langsung kepada ulama’ dan pemikir utama yang tesebut dalam pengertian aswaja.
PMII memandang bahwa aswaja adalah orang-orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan dengan berlandaskan atas dasar moderasi, menjaga keseimbangan, dan toleran. Aswaja bukan sebuah madzhab melainkan sebuah metode dan prinsip berfikir dalam menghadapi persoalan-persoalan agama sekaligus urusan sosial kemasyarakatan, inilah makna aswaja sebagai manhaj al fikr. Sebagai manhaj alfikr, PMII berpegang pada prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (netral), ta’adul (keseimbangan), dan tasamuh (toleran).
Oleh karena itu, sebagaimana penjelasan di bawah ini;
·         Manhaj al fikr yaitu sebagai sebuah metode berpikir yang digariskan oleh para sahabat Nabi dan tabi’in yang begitu erat kaitannya dengan situasi politik dan kondisi sosial yang meliputi masyarakat muslim waktu itu. Baik cara mereka menyikapi berbagai kemelut perbedaan antar keyakinan atau dalam memahami keruhnya konstelasi politik, yang kesemua itu berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan yang terselubung dalam makna ASWAJA. Dari manhajul fikr ini kemudian lahir pemikiran-pemikiran keislaman baik di bidang aqidah, syari’ah, maupun akhlaq/tasawuf, yang binneka tunggal ika dalam ruh yang sama.
·         Manhaj taghayyur al-ijtima’i yaitu sebuah pola perubahan sosial-kemasyarakatan yang sesuai dengan ruh perjuangan rasulullah dan para sahabatnya. Untuk memahami pola perubahan ini dibutuhkan pemahaman akan perjalanan sejarah kebudayaan islam yang nantinya terurai dalam materi pendalaman tentang ASWAJA.
Dari pemahaman diatas, pada pokoknya pemahaman Aswaja baik sebagai metode berpikir (manhaj al fikr) maupun pola perubahan sosial (manhaj taghayyur al-ijtima’i) adalah sesuai dengan sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa: ma ana ‘alaihi wa ashabi (segala sesuatu yang datang dari rasul dan para sahabatnya) yaitu metode berpikir dan pola perubahan sosial yang diusung, yang sebenarnya berlandaskan pada beberapa nilai berikut : moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), keseimbangan (tawazun), dan keadilan (ta’adul).

D.      Nilai-Nilai Asjawa
a.         Nilai Kemoderatan (Tawassuth)
Khairul umur awsathuha (moderat adalah sebaik-baik perbuatan). Tawassuth bisa dimaknai sebagai berdiri di tengah, moderat, tidak ekstrim, tetapi memiliki sikap dan pendirian yang teguh dalam menghadapi posisi dilematis antara yang liberal dan konserfatif, kanan dan kiri, Jabariyah dan Qadariah, dengan mempertimbangkan kemaslahatan umat dalam garis-garis tuntunan Al-quran dan As-sunnah . Maka kurang benar jika PMII dikenal terlalu liberal dalam pemikiran, karena bertentangan dengan nilai-nilai tawassuth yang menjadi jantung pijakan dari PMII itu sendiri. Tetapi PMII lebih dialektis, lebih terbuka dalam pola berpikir, tidak terjebak dalam pemahaman fanatik yang berbuah pada sebuah kebenaran yang arbitrer (benar menurut diri sendiri).
Bersikap tawassuth dalam bidang aqidah adalah di satu sisi tidak terjebak dalam rasionalitas buta dan terlalu liberal (sehingga menomorduakan al-quran dan sunnah rasul), di sisi lain tetap menempatkan akal untuk berfikir dan menafsirkan al-quran dan al-sunnah yang sesuai dengan kondisi.
Fiqih atau hukum Islam yang tawassuth adalah seperangkat konsep hukum yang di dasarkan kepada Al-quran dan hadits, namun pemahamannya tidak sekadar bersandar kepada tradisi,juga tidak kepada rasionalitas akal belaka.
Tasawuf yang tawassuth adalah spiritualitas ketuhanan yang menolak konsep pencapaian haqiqah (hakikat Tuhan) dengan meninggalkan syari’ah ataupun sebaliknya. Tasawuf yang tawassuth menjadikan taqwa (syari’ah) sebagai jalan utama menuju haqiqah.

b.        Nilai Toleransi (Tasamuh)
Tasamuh adalah toleran, adalah sebuah pola sikap yang menghargai perbedaan, tidak memaksakan kehendak dan merasa benar sendiri. Nilai yang mengatur bagaimana kita harus bersikap dalam hidup sehari-hari, khususnya dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Biarkan semuanya partikular, tidak harus seragam dengan kita. Arah dari nilai toleransi ini adalah kesadaran akan pluralisme atau keragaman, baik itu dalam beragama, budaya, keyakinan, dan setiap dimensi kehidupan yang harusnya saling berkomplementer (saling melengkapi). Sebagaimana konsep Binneka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu) dan ayat Al-Quran yang berbunyi “Lakum Dinukum Wal-Yadin” (bagimu agamamu, bagiku agamaku) yang dengan perbedaan ini kita mendapat rahmat, hidup kita lebih variatif.
Dalam arus filsafat yang saat ini berkembang, saatnya menyapu (sweeping) dan meruntuhkan metafisika kehadiran (konsep tunggal yang kebenarannya adalah satu). Sebuah konsep yang memaksakan kebenarannya terhadap yang lain, tanpa menerima perbedaan dan menolak akan kebenaran yang lain.

c.         Nilai Keseimbangan (Tawazun)
Tawazun berarti keseimbangan dalam pola hubungan atau relasi, baik yang bersifat antar individu, antar struktur sosial, antara Negara dan rakyatnya, maupun antara manusia dan alam. Keseimbangan di sini adalah bentuk hubungan yang tidak berat sebelah (menguntungkan pihak tertentu dan merugikan pihak yang lain). Tetapi, masing-masing pihak mampu menempatkan dirinya sesuai dengan fungsinya tanpa mengganggu fungsi dari pihak yang lain. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya kedinamisan hidup.
Dalam ranah sosial yang ditekankan adalah egalitarianisme (persamaan derajat) seluruh umat manusia. Tidak ada yang merasa lebih dari yang lain, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya. Tidak ada dominasi dan eksploitasi seseorang kepada orang lain, termasuk laki-laki terhadap perempuan.
Dalam wilayah politik, tawazun meniscayakan keseimbangan antara posisi Negara (penguasa) dan rakyat. Penguasa tidak boleh bertindak sewenang-wenang, menutup kran demokrasi, dan menindas rakyatnya. Sedangkan rakyat harus selalu mematuhi segala peraturan yang ditujukan untuk kepentingan bersama, tetapi juga senantiasa mengontrol dan mengawasi jalannya pemerintahan.
Dalam wilayah ekonomi, tawazun meniscayakan pembangunan sistem ekonomi yang seimbang antara posisi Negara, pasar dan masyarakat. Fungsi Negara adalah sebagai pengatur sirkulasi keuangan, perputaran modal, pembuat rambu-rambu atau aturan main bersama dan mengontrol pelaksanaannya. Tugas pasar adalah tempat pendistribusian produk yang memposisikan konsumen dan produsen secara seimbang, tanpa ada satu pihak pun yang ditindas. Fungsi masyarakat (khususnya konsumen) di satu sisi adalah menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif, yang di dalamnya tidak ada monopoli dan di sisi lain mengontrol kerja negara dan pasar.

d.        Nilai Keadilan (Ta’adul)
Yang dimaksud dengan ta’adul adalah keadilan, ia merupakan pola integral dari tawassuth, tasamuh, dan tawazun. Dengan adanya keseimbangan, toleran, dan moderat maka akan mengarah pada sebuah nilai keadilan, sekaligus merupakan ajaran universal dari Aswaja. Setiap pemikiran, sikap dan relasi, harus selalu diselaraskan dengan nilai ini. Pemaknaan keadilan yang dimaksud di sini adalah keadilan social, yaitu; nilai kebenaran yang mengatur totalitas kehidupan politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Sejarah membuktikan bagaimana Nabi Muhammad SAW mampu mewujudkannya dalam masyarakat Madinah. Bagitu juga Umar bin Khattab RA yang telah meletakkan fundamen bagi peradaban Islam yang agung. Sebenarnya ke-Empat nilai inilah yang menjadi metode berpikir dan pola perubahan sosial dari Nabi dan para sahabatnya.

            NU menjadi Organisasi agama yang paling besar dan cepat perkembangannya memiliki dari banyak pengikutnya dan kuatnya organisasi ini berdiri, dikarenakan kemoderatannya dalam ideology dan fleksibel dalam hukum furu’i, hingga kini banyak pengikutnya tak terkecuali para pemuda dan pelajar diperguruan tinggi di seluruh Nusantara. Para kader-kader NU yang melanjutkan jenjang pendidikan di ranah perguruan tinggi pun masih menjaga dan memperjuangkan ideology Aswaja di kampus masing-masing. Dengan menjalankan empat nilai/prinsip tersebut, diharapkan kader PMII menjadi kader yang berpegang teguh kepada aswaja dan nilai-nilai spiritual.

KE-INDONESIA-AN

Ditulis oleh:  Zulfikar (Biro Kajian dan Wacana PMII Rayon Psikologi dan Kesehatan) Berdasarkan sumber kata,keindonesiaan merupakan b...