Selasa, 20 April 2021

BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA (Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra)

Sinopsis:

        Dikisahkan tentang Perjalanan Hanum dan Rangga berlanjut dari Wina ke Amerika, dengan tujuan sebenarnya adalah untuk tugas. Hanum ditugaskan oleh Gertrud Robinson, bosnya di harian Heute ist Wunderbar untuk menulis artikel dengan tema “Would the world be better without Islam?” (Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?). Sebuah topik yang sebenarnya sangat mengusik keyakinannya. Pada awalnya ia menolak tawaran Gertrud. Namun ia tidak bisa membiarkan artikel untuk topik tersebut digarap oleh Jacob, teman sesama wartawannya. Karena Jacob jelas akan menjawab ‘Ya’ dan mencari segala informasi dan data untuk ‘mengiyakan’ jawaban artikelnya. Akhirnya ia menerima tawaran Gertrud untuk menulis artikel tersebut. Karena dengan begitu, artikel tersebut memiliki kesempatan untuk menjawab ‘tidak’.

        Novel “Bulan Terbelah di Langit Amerika” mengingatkan pembaca pada peristiwa black Tuesday 9 September 2001. Dunia seakan mengidap Islamophobia. Islam menjadi pesakitan, julukan teroris kemudian melekat bagi setiap penganutnya. Penyakit itu menular dari satu negara ke negara lain. Dunia begitu sensitif dengan segala hal yang berbau Islam. Islam divonis sebagai pihak yang bertanggung jawab atas segala bentuk terorisme yang terjadi di muka bumi. Muncul pertanyaan, “Would the world be better without Islam? Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”.

        Novel ini inspiratif, namun buku ini juga menyuguhkan sejarah mengenai hubungan Islam dan Amerika. Bercerita tentang suku Melungeon, Thomas Jefferson dan Al-Qur’an, dan potongan surat An-Nisa yang tertulis di salah satu pintu gerbang fakultas Hukum Harvard USA. Selain itu, novel ini juga mengungkapkan fakta bahwa Christophorus Colombus sebenarnya bukan penemu benua Amerika.

Selasa, 24 November 2020

POTENSI PSIKOPATOLOGI PADA MASYARAKAT IBU PERTIWI KARENA LUMPUHNYA EKONOMI SAAT PANDEMI COVID-19

 Ditulis Oleh:

Ratna Lestari

(Anggota Rayon Psikologi dan Kesehatan)

Abstrak

            Pandemi Covid-19 mempunyai implikasi ekonomi yang besar bagi masyarakat dunia, khususnya di negeri ibu pertiwi ini yang masih dikategorikan negara berkembang. Pandemi ini mengakibatkan merosotnya perekonomian bangsa. Selain itu juga mempengaruhi kondisi psikis, fisik, maupun sosial masyarakat Indonesia. Banyak warga rela melakukan tindakan yang bisa dikatakan di luar nalar untuk dapat bertahan hidup di era pandemic ini. Metode penelitian artikel ini adalah wawancara, laporan media massa, kajian lembaga riset, literature ilmiah, dan kajian para ahli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pandemic terhadap perekonomian dan kondisi fisik, psikis, dan sosial warga Indonesia.

Kata Kunci : Pandemi Covid-19, Ekonomi, Psikis, Fisik, Sosial.

Pendahuluan

            Menurut WHO (World Health Organization), Covid atau Corona Virus Disease adalah virus yang menginfeksi sitem pernafasan. Penyebaran dari virus corona ini terhitung sangat cepat, yang awalnya dari Wuhan, China lalu menyebar ke seluruh penjuru dunia. Adanya virus corona ini mempunyai dampak yang sangat serius, salah satunya ekonomi. Ekonomi merupakan faktor yang penting dalam kehidupan. Karena perekonomian menentukan keberlangsungan hidup dari masyarakat. Setelah adanya covid ini perekenomian Indonesia mengalami penurunan sebanyak 2,5%. Berbagai sector industry di Indonesia belum siap dengan adanya virus corona ini,salah satunya adalah pengusaha kecil, mikro dan menengah.

            Perekonomian yang menurun juga berdampak pada gangguan kesehatan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan psikis. Keadaan ini mengakibatkan masyarakat mengalami gangguan psikosomatis. Mereka merasa tertekan, mengalami kekhawatiran secara berlebihan, stress, serta, depresi. Gangguan psikosomatik merupakan gangguan penyakit fisik yang diakibatkan dari adanya gangguan penyakit psikis. Covid yang mengakibatkan perekonomian yang merosot sehingga mengakibatkan adanya berbagai permasalahan sosial seperti meningkatnya angka kriminalitas yaitu pencurian yang biasa maupun dengan cara menggunakan hal-hal supranatural.

Metodologi

            Kajian artikel ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan wawancara, pendekatan literature ilmiah, laporan media massa, kajian lembaga riset, dan kajian para ahli. Kajian ini bersifat inferential, yaitu metode penelitian dengan permasalahan yang actual yang terjadi di masyarakat.

Hasil dan Pembahasan

            Dibeberapa akhir bulan ini terdapat beberapa kasus yang diakibatkan karena adanya virus corona. Dan kasus ini rata-rata terjadi karena bagaimana cara mereka mempertahankan hidup. Menurut data kepolisian Indonesia angka kriminalitas naik sampai 11,8%. Kasus pencurian dengan alat berat merupakan penyebab naiknya angka kriminalitas. Pencurian yang dilakukan dengan cara bermacam-macam, seperti begal, pencurian di toko swalayan, maupun dengan cara melibatkan hal-hal supranatural.

           Di sebuah desa di Kabupaten Magelang, terdapat beberapa kasus pencurian dengan cara menggunakan hal mistis/supranatural. Menurut wawancara saya dengan subjek dengan inisial BL, di desanya terdapat maling berwujud manusia yang bisa berubah jadi hewan (anjing, babi, kucing, dan lain-lain). Setelah kepergok basah malingnya bercerita dia terpaksa mendalami ilmu ambles bumi/malih rogo untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maling tidak bekerja lagi karena adanya virus corona ini. Karena adanya virus corona ini banyak yang bekerja di PHK, yang berwirausaha bangkrut, yang berdagang tidak laku. Jadi terpaksa banyak orang melakukan hal yang instan dan tidak halal untuk memenuhi kebutuhan mereka.

           Selain kriminalitas, terdapat juga kasus kesehatan mental yang mengalami kenaikan pesat. Menurut WHO “Isolasi, ketakutan, ketidakpastian, kekacauan ekonomi,itu semua dapat mengakibatkan tekanan psikologis” Devora Kestel. Dapat disimpulkan karena corona virus ini yang mengakibatkan menurunnya perekonomian dan berdampak pada psikis warga Indonesia. Mereka takut kehilangan pekerjaan, penghasilan, serta takut tidak bisa menghidupi keluarganya. Selain itu mereka juga takut jika mereka terkena virus corona,mereka takut diasingkan, takut tiba-tba kehilangan nyawa karena corona padahal masih punya tanggungan keluarga.

            Hal itu bisa menimbulkan stress, depresi dan bahkan bisa ingin melakukan bunuh diri. Seperti yang telah dimuat dalam suara.com, bahwa terdapat 3 kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang perawat, Menteri Keuangan Jerman, serta remaja Inggris. Mereka mempunyai motif yang berbeda-beda namun pada intinya mereka ingin melakukan bunuh diri karena adanya virus corona. Seorang perawat mengakhiri hidupnya karena ia terkena virus corona dan takut menularkan ke orang lain sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Lalu seorang Menteri Keuangan Jerman memilih mengakhiri hidupnya karena bingung dan takut menangani dampak ekonomi yang disebabkan karena adanya corona. Sedangkan remaja Inggris sebelum meninggal dunia mengatakan kepada keluarganya bahwa ia tidak tahan dengan dunia yang sempit, rencana-rencananya yang gagal dan terjebak didalam rumah.

Daftar Pustaka

Silpa Hanoatabun. 2020. Dampak Covid-19 Terhadap Perekonomian Indonesia. EduPsyCouns Journal. Vol. 2 No. 1. Hal. 146-153

Nurkholis. (2020). Dampak Pandemi Novel- Corona Virus Disiase (Covid-19) Terhadap Psikologi dan Pendidikan serta Kebijakan Pemerintah. Jurnal PGSD. Vol. 6, No. 1, Hal. 39-49.

Chairul Ikhsan Baharudin. (2020). Ancaman Krisis Ekonomi Global Dari Dampak Penyebaran Virus Corona (Covid-19). AkMen Jurnal. Vo. 17 No. 1. Hal. 90-98.

Nur Rohim Yunus. (2020). Kebijakan Pemberlakuan Lockdown Sebagai Antisipasi Penyebaran Corona Virus Covid-19. Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i. Vol. 7. No. 3. Hal. 227-238.

POLA ASUH DENGAN LABELING PENGARUHI KONSEP DIRI ANAK

 

  Ditulis Oleh:

Anwar Fuad

(Anggota Rayon Psikologi dan Kesehatan)


            Orang tua adalah orang terdekat bagi anak, yang dijaadikan contoh sebagai pembelajaran. Pertama kali anak berinteraksi adalah kepada orang tua. Sebagai orang yang terdekat dan menjadi pembentukan awal daripada kepribadian anak, orang tua memiliki tanggung jawab memastikan anak telah mencapai tahapan tugas perkembangan pada tahapan usianya untuk siap berada di tengah-tengah lingkunganya.

               Interaksi antara orang tua dan anak membentuk kepercayaan dan konsep diri pada anak. Jika interaksi ini berjalan dengan baik akan menimbulkan respon yang baik pada konsep diri dan kepercayaan diri anak. Namun, jika interaksi tidak berjalan dengan baik akan berdampak negative pada konsep diri anak. Perkataan dari orang tua akan melekat ada diri anak dan membuat konsep diri dari perkataan orang tua (labeling).

            Labeling adalah pemberian julukan kepada seseorang atas ciri-ciri yang melekat pada diri seseorang tersebut (nunung hidayah, 2014). Labeling membentuk prasangka atau persepsi diri terhadap perilaku terbentuk. Apa yang dikatakan orang tua seperti kata “bodoh” pada sang anak, akan membuat anak meyakini bahwa dirinya bodoh dan berperilaku mengikuti apa yang menjadi keyakinan dari perkataan orang tua. Menurut Peggy Thoits (1999) orang yang diberikan label menyimpang (deviant) dan diperlakukan sebagai orang yang menyimpang, akan menjadi menyimpang. Sebagai contoh, jika seorang anak diberi label “Bodoh” maka pada akhirnya dia akan menjadi anak yang bodoh.

            Labeling memang sepele  akan tetapi jika  tidak diperhatikan akan menghasilkan dampak yang besar. (Hidayah dan khusmadewi, 2020). Pelabelan yang dilakukan oleh orang tua seperti bodoh, mengakibatkan adanya beban pada diri anak. Beban ini kemudian menjadi ganjalan bagi anak untuk bercerita kepada orang tua, kenapa tidak mendapatkan nilai  yang bagus. Akhirnya menjadikan hambatan dalam komunikasi antara orang tua dan anak. Selain itu labeling juga dapat menggangu konsentrasi anak. Sehingga dapat menimbulkaan permasalahan yang lainnya. Seseorang akan terkunci dalam sifat label yang diberikan lingkungan kepadanya, terutama pelabelan yang negatif. Mereka cenderung menjadi sosok seperti yang dilabelkan dan akan berdampak pada psikologis seseorang. Sebagai contoh dampak psikologis misalnya: mudah sedih, putus asa, emosi yang tidak terkontrol, tidak mau berbicara, tempertantrum, dan memberontak (Hurlock, 1999).

Dampak Negatif Labeling

            Menurut Wiley (dalam Calhoun dan Acocella, 1990) membentuk individu yang memiliki konsep diri yang positif memerlukan suatu proses yang melibatkan peran lingkungan yang dimulai sejak individu itu lahir dan diawal masa perkembangannya (Hendri, 2019). Orang tua adalah seseorang yang mengiringi pertumbuhan anak, dari individu lahir dan mendampingi perkembangan anak. Pola asuh dari kedua orang tua membentuk konsep diri anak, adanya labeling yang bersifat negatif sangat dapat mempengaruhi konsep diri anak.

            Labeling memberikan dampak negatif melalui konsep diri dan pandangan orang tua. Yang pertama yaitu konsep diri, Menurut Sigmund Freud, tokoh psikoanalisa, konsep diri berkembang melalui pengalaman, perilaku dari orang lain yang bersifat negatif dan berulang-ulang mempengaruhi konsep diri. Jelas, jika orang tua melabeli anaknya dengan menyebutkan “nakal”, maka anak akan membuat persepsi pada diri sendiri dan menyakininya jika dia adalah seorang anak yang nakal. Persepsi diri yang diyakini ini disimpan dan menjadi sebuah perilaku.

            Yang kedua, yaitu persepsi orang tua, memandang anaknya ‘bodoh’. Seringkali anak melihat hasil akhir dari anaknya untuk mendapatkan yang bagus. Seperti, ketika sekolah mendapatkan nilai kecil atau belum mendapatkan nilai yang memuaskan, akan tetapi anak sudah berusaha, dengan giat belajar. Akan tetapi karena mendapatkan nilai yang kecil orang tua memberikan penilaian kepada anak, bahwa dia adalah anak yang bodoh.

            Labeling ini kemudian menetap, yang akan memberikan dampak negatif kepada anak. Tidak mendapatkan dukungan atas usaha dari anak membuat anak merasa frustasi dan merasa tidak mendapatkan penghargaan dari orang tua atas hasil kerja kerasnya untuk mendapatkan nilai yang besar, meski belum memuaskan. Sehingga perilaku usaha untuk mendapatkan nilai yang bagus, tidak dilakukan anak dengan berfikir ‘mungkin juga akan dimarahi’, padahal sudah berusaha menjadi pintar dengan belajar namun tidak dihargai.


Pola Asuh

            Individu yang memiliki konsep diri negatif membuat seorang anak akan memandang dirinya negative, seperti lemah, tidak berguna, tidak percaya diri dan tidak merasa dikendalikan oleh orang lain. Maka perlu adanya pola asuh yang tepat untuk membuat anak memiliki konsep diri yang positif. Tahap perkembangan awal sangat memengaruhi konsep diri pada sang anak.

        Bentuk Pola Asuh pada Anak

        Yang pertama, adalah pola asuh otoriter. Pada pola asuh otoriter keputusan anak dalam berperilaku berdasarkan dari kemauan orang tuanya. Pola asuh ini hanya menjadikan anak sebagai objek pelaksanan dari perintah orang tua. Dalam hal ini sulit bagi anak untuk menuangkan kebebassnya dalam bertindak dan mengambil keputusan. Orang tua yang otoriter, cenderung akan memberikan labeling negatif pada anak jika tidak sessuai dari perintah atau anak membuat kesalahan. Pola asuh ini membuat anak menjadi penakut dan anak merasa tidak dihargai. Seorang anak merasa tidak dihargai karena inisitif  yang dilakukan  oleh  anak  tidak  didukung oleh orang tua dan hanya memberikan dukungan dari apa kata orang tua.

        Yang kedua, adalah pola asuh demokratis. Dalam pola asuh yang demokratis dengan memberikan bimbingan kepada sang anak. Anak yang tidak mendapatkan bimbingan akan menjadi ‘se-enaknya’ saja. Perlu adanya bimbingan sehingga anak mendapatkan dukungan dari orang tua, merasa dihargai dan mendapatkan kepercayaan dirinya. Pola asuh demokratis lebih tepat digunakan untuk memberikan konsep diri yang positif pada anak.

            Dalam pola asuh ini juga tidak membandingkan pencapaian dan keberhasilan orang lain dengan anak sendiri, akan tetapi mendukung sang anak atas potensi dari dirinya. Jika terdapat kesalahan pada anak tidak langsung dengan memberikanya labeling negatif yang membuat anak merasa frustasi akan tetapi mendapatkan pengarahan. Tidak adanya labeling negatif pada anak dari orang tua sendiri membantu anak untuk mendapatkan kepercayaan dirinya sendiri dalam berperilaku.

            Ketiga, pola asuh permisif. Pada pola asuh ini orang tua cenderung mengabaikan anaknya, keadaan seperti  ini  merasa  anak  merasa  diabaikan.  Kebebasan penuh tanpa adanya arahan dan bimbingan dari orang tua, meski tanpa adanya labeling akan tetapi akan membuat anak tetap merasa dirinya kurang berharga dan tidak mendapatkan dukungan dan penghargaan dari orang tua, sehingga membuat konsep diri yang negatif pada diri anak.

        Konsep Diri

            Konsep diri adalah sesuatu yang diyakini oleh anak, yang berasal dari lingkungan sekitar anak, terutama orang tua. Orang tua memiliki peran dalam perkembangan anak dan memiliki kewajiban dalam membantu anak untuk dapat mencapai tugas tahapan perkembangannya. Adanya kesan negatif, seperti labeling akan membuat anak mempunyai konsep diri yang negative, konsep diri yang negatif jelas merusak dari kesehatan mental anak, permasalahan permasalahan dari anak dapat bertambah dan cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah.

            Pola asuh demokratis adalah cara yang tepat guna membangun konsep diri yang positif pada anak, dengan memberikan dukungan dan juga pengarahan pada anak, tanpa memberikan labeling negatif pada anak. Kesehatan mental penting bagi semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Perlu adanya Support System yang baik bagi anak untuk pertumbuhan dan perkembangan untuk menghasilkan konsep diri yang positif, agar mampu berada ditengah-tengah masyarakat dengan baik. Tanpa adanya kesan negatif dari orang tua, yang membuat anak memiliki rasa kurang percaya diri. Mulai dari sekarang, sebaiknya hindari memberikan label negatif kepada anak.

Daftar Pustaka

Hendri, H. (2019). Peran Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Konsep Diri  Pada  Anak. Jurnal At-Taujih, 2(2), 56-71.

Hidayah, R., & KHUSUMADEWI, A. (2020). STUDI TENTANG RESILIENSI PESERTA DIDIK KORBAN LABELLING. Jurnal BK UNESA, 11(3).

Khoisiyah, N. H. (2014). Gambaran Respon Psikologis Remaja yang Mendapat   Labeling   di   SMK   Perdana   Kota Semarang. FIKkeS, 7(2).

Linda, N. EFEK LABELING ORANGTUA TERHADAP PERTUMBUHAN POLA FIKIR ANAK.

Rahmat, S. T. (2018). Pola asuh yang efektif untuk mendidik anak di era   digital. Jurnal   Pendidikan    dan    Kebudayaan Missio, 10(2), 143-161.

Syamsinar, S. (2019). Analisis Faktor Pengaruh Pemberian Label (Labelling) terhadap Minat Belajar Fisika Peserta Didik Kelas XI IPA SMA Negeri 3 Pangkep (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).

BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA (Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra)

Sinopsis:           Dikisahkan tentang Perjalanan Hanum dan Rangga berlanjut dari Wina ke Amerika, dengan tujuan sebenarnya adalah untuk tug...